See yourself
differently.
Ceritain yang terjadi — Reflek bantu kamu lihat pola yang kamu gak bisa lihat sendiri. AI self-reflection yang gak takut bilang "mungkin pattern-nya bukan di mantan kamu".
Refleksi yang kamu butuhin. Bukan yang mau kamu denger.
3 sesi gratis/minggu·Tanpa daftar·Privat· Post-Mortem Hubungan
Sebelum kamu decide
Yang Reflek bukan.
Tool buat bilang "dia toxic". Aku gak akan kasih label ke orang yang gak aku kenal cuma dari ceritamu.
Therapist murah-murahan. Kamu butuh psikolog, datang ke psikolog. Aku bukan substitute.
ChatGPT yang validate semua. Kalau kamu cuma mau denger "you deserve better", kamu punya banyak option lain.
Tool buat hakimi orang lain. Kamu cuma punya satu sisi cerita. Aku gak akan pura-pura punya semua data.
Terus Reflek itu apa?
Tempat kamu bisa cerita pola yang sebenernya udah kamu tau — ke AI yang finally berani nanya: "ini ke berapa kalinya?"
Males ngetik ulang dramanya?
Upload aja chatnya.
Kamu gak harus paraphrase dari ingatan. Kasih AI data aslinya — biar refleksinya pakai konteks beneran, bukan recall yang udah bias.
Cara 1
Screenshot percakapan
Punya screenshot drama di WA, DM Instagram, atau chat di Slack? Tap icon clip, pilih image, kirim. AI baca isinya.
Format: JPG · PNG · WebP · GIF · max 5MB
Cara 2
Export WhatsApp
Buat post-mortem yang lebih deep — export chat lengkap dari WA (tap menu chat → Export Chat → Without Media), upload .txt-nya.
Format: .txt · max 10MB · Auto-anonymize
Cara 3
Ngomong aja
Males ngetik? Tekan tombol mic, ngomong Bahasa Indonesia — teksnya ketulis sendiri sambil kamu cerita.
Butuh: izin mikrofon · semua browser
Privacy-first by design
- ·Nama orang di chat WA di-anonymize sebelum kirim ke AI (kamu pilih dulu "yang mana kamu")
- ·Image diproses in-memory, tidak disimpan persistent di server
- ·AI tidak akan label orang lain (mantan/bos/temen) walau ada chat "evidence"
Yang biasanya dibawa ke sini
Hal yang kamu simpen 2 minggu di kepala.
“Pacar aku cancel last minute lagi.”
→ Lagi-lagi? Pattern yang kamu describe gak butuh interpretasi. Itu data.
“Bos kasih kerjaan jam 6 sore, due besok.”
→ Pertanyaan: ini pertama kali, atau pattern? Karena response kamu akan beda tergantung jawaban itu.
“Putus 3 bulan lalu, masih kepikiran.”
→ 3 bulan itu bukan deadline. Tapi aku mau tau: kamu masih kepikiran karena belum proses, atau karena memang belum siap proses?
“Mau resign tapi belum yakin.”
→ 'Belum yakin' itu bahasa diplomatik buat 'takut.' Takut apa specifically?
Signature feature
Post-Mortem Hubungan
"Post-mortem" itu apa? Tradisi dari dunia medis & startup: bedah sesuatu yang sudah berakhir untuk paham apa yang sebenarnya terjadi — bukan buat nyalahin. Reflek minjem tradisi itu, buat hubunganmu.
8 stage. 30-45 menit. Kamu keluar dari sini bukan dengan "feel better" — tapi dengan clarity, pelajaran konkret, dan 1 komitmen yang kamu bawa ke hubungan berikutnya.
Buat: abis putus, pertemanan yang bubar, resign atau kena layoff, partnership yang pecah. Yang udah lewat — tapi belum kamu selesaiin di kepala.
Pro tip: Kamu bisa upload screenshot atau export chat WA buat post-mortem yang lebih grounded.
Mulai Post-MortemBarang jadinya
Begini bentuk dokumennya.
Bukan mockup — ini potongan dari dokumen contoh yang beneran dirender sistemnya. Sesi kamu sendiri sepenuhnya privat.

Kronologi
Kejadiannya diurutkan — kapan mulai, kapan retak, kapan selesai. Sering di sinilah orang pertama kali lihat jaraknya.

Pola yang berulang
Digambar sebagai lingkaran, karena memang begitu bentuknya: hasilnya balik jadi pemicunya. Plus ongkos yang kamu bayar tiap putaran.

Bagian kamu, dan bagian mereka
Yang kamu akui sendiri, dipisah dari dinamika mereka. Perilakunya dideskripsikan — orangnya gak dilabeli.
Lihat dokumen contoh selengkapnya — termasuk komitmen penutup dan tombol simpan PDF-nya.
Biar kebayang tone-nya
Contoh percakapan.
“Dia bilang butuh space, tapi masih like story aku tiap hari.”
→ Butuh space dari komitmen, tapi gak dari perhatian kamu. Kamu notice bedanya, kan? 👀
“Aku mau upload chat 2 tahun sama mantan. Siap-siap ya.”
→ Oke, aku baca. Tapi deal dulu: yang kita bahas pola kamu — bukan dosa dia.
Ini contoh, bukan testimoni — kita belum mau pura-pura punya ribuan user. Jujur dari awal.
Biar jelas dapurnya
Gimana Reflek dibangun.
Metodenya
Cara Reflek nanya itu dibangun di atas teknik refleksi dari psikologi yang mapan: misahin fakta dari interpretasi, baca pola yang berulang lintas hubungan, dan bantu kamu lihat kontribusimu sendiri — tanpa nyalahin diri.
Guardrail-nya
- ·Gak mendiagnosis — "narcissist", "trauma", itu kerja psikolog, bukan AI.
- ·Gak melabel orang lain — walau chat-nya kamu upload sebagai "bukti".
- ·Deteksi krisis — saat ada sinyal berat, refleksi berhenti dan kamu diarahkan ke bantuan profesional.
Ditenagai Claude (Anthropic) — dan Reflek tetap AI: bisa salah, dan bukan pengganti psikolog.
Yang sering ditanya.
Chat aku dibaca siapa?+
Cuma kamu. Tim Reflek gak baca isi chat individual — yang kami lihat cuma angka agregat (jumlah sesi, drop-off) buat improve produk. Detail lengkap di halaman Privasi.
Bedanya sama curhat ke ChatGPT?+
ChatGPT default-nya validasi. Reflek di-design buat refleksi: dia bakal nanya balik, misahin fakta dari asumsi kamu, dan nunjukin pola yang kamu skip. Plus ada Post-Mortem 8 stage dan analisa chat WA yang ChatGPT gak punya.
Beneran gratis?+
Ada yang gratis beneran: 3 sesi chat per minggu, tanpa daftar, tanpa kartu. Kalau kepake terus, Plus Rp 49.000/bulan kasih 100 pesan sebulan plus 1 Post-Mortem. Bisa berhenti kapan aja.
Reflek bisa salah gak?+
Bisa. Reflek cuma denger satu sisi cerita — sisi kamu — dan AI bisa keliru baca konteks. Makanya dia gak akan pernah kasih verdict "putusin aja" atau label "dia toxic". Keputusan tetap punya kamu.
Penting:
- ·Reflek adalah AI reflection tool, bukan terapi.
- ·Untuk crisis mental health: 119 ext 8 (gratis, 24/7) atau sumber daya lainnya.
- ·Kami gak nyimpen isi chat soal orang lain kata-per-kata, dan gak akan ngasih label ke siapa pun.
Kamu udah tau, kan?
Pattern itu udah kamu lihat. Cuma belum kamu articulate. Mulai dari sini.
Mulai refleksi